Semenjak gue bekerja di butik jam yang sekarang ini, gue sadar bahwa pernyataan "Indonesia adalah negara miskin" itu totally completely bull$hit!
Bayangkan, customer gue membeli barang dengan minimal harga 50jt rupiah hanya untuk sebuah jam tangan dan ada juga yang membayar sebuah jam tangan harga 180jt dengan TUNAI.
apa jadinya bila uang itu ia gunakan untuk menyumbangkan beras dan bahan pokok lain untuk para kaum papa yang sehari-harinya cuma punya cukup uang untuk makan, ato malah tidak punya uang untuk makan.
gue -ga munafik neh- memang hidup dari mereka, customer yang membeli jam paling mahal akan semakin gue hargai karena dari uangnyalah itu gue mendapatkan tambahan komisi untuk membeli make up. huahahahaha.
itulah hidup sayang. yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.
Tadi malam temen gue menanyakan, menu makan siang gue di butik, dan gue jawab nasi dengan cumi kering kentang tumis tempe sayur pecel (yummy!). Kemudian dia tanya dengan polosnya "Emang di daerah situ (tempat kerja gue adalah Mall elit di kawasan bisnis centre di jakpus) ada yang jual makanan rakyat seperti itu?"
Well just for your information, di kawasan elit seperti itu ada pekerjanya yang berbau wangi berpenampilan necis dengan dasi dan kilapan sepatu kulit serta handbag LV aspal hongkong namun bergaji rendah, yang bisanya cuma melihat kaum jetset mengeluarkan duit di atas puluhan juta -just to satisfy their hobbies-tanpa mendapatkan setengah dari duit yang mereka pegang. Pekerja2 ini juga butuh makan yang sesuai dengan kantong mereka dan selera proletar mereka (meskipun penampilan masih terlihat necis) sehingga terbentuklah sebuah bedeng2 makanan di dalam kawasan bisnis ini yang dapat menampung semua itu. Bedeng yang berdampingan dengan restoran korea restoran jepang restoran amerika fast food dan lain-lain. Porsi besar harga murah!
Jadi meskipun berpenampilan mewah dan bekerja di tempat elit, kita tetep kelas pekerja yang tetep memikirkan caranya mengeluarkan uang dengan sedikit2nya dengan hasil yang kekenyangan!